Posts

Salam Sayang

Kamu bilang, Hanya aku yang kamu tunggu-tunggu Kamu bilang, Tak sabar tuk berjumpa denganku Kamu juga bilang, Akan meluangkan waktumu Demi berpuas diri bersamaku Selama aku di sisimu Bulan beranjak Hari-hari berganti Jam dinding berdentang Hingga akhirnya aku sampai Di depan pintu rumahmu Dengan tulus kuucapkan Salam hangat Disertai senyum sumringahku "Wahai, aku telah datang! Aku yang telah kamu tunggu-tunggu, yang buatmu tak sabar tuk berjumpa" Kukira aku 'kan jadi Tamu istimewamu Yang 'kan disambut Dengan penuh suka cita Namun, nyatanya apa? Kamu malah bertanya "Ah, kenapa datang sekarang? Ini terlalu cepat" Kupikir, kedatanganku tak begitu cepat Kabarku ada tiap harinya Tuk jadi pengingatmu Bahwa aku akan datang Pada Minggu malam "Sudah waktunya, sayang" Jawabku dengan tenang "Tak apa, aku masih lama di sini. Kamu selesaikan saja urusanmu, aku akan setia menunggumu sampai batas waktuku tiba" ...

Tetap Berjalan

Pagi beranjak siang Siang berganti malam Terbit lalu terbenam Panas kemudian dingin Begitulah cara kerjanya Tanpa memedulikan sekitar Menggerus apapun yang berada di depan matanya Maka waktu akan tetap berjalan Seiring roda kehidupan berputar Tak peduli kamu sedang di atas atau terpuruk di bawah Dengan diam, ia akan tetap berdetak perlahan Jangan disia-siakan, pesannya Karena tak ada reka ulang Bangkitlah sayang, dan tetap berjalan

Kehidupan Fana

Datang, kemudian pergi Hanyut, kemudian larut Ukir, kemudian hapus Erat, kemudian hempas Ikat, kemudian lepas Sebuah rangkai kehidupan Simbolis kefanaan yang penuh makna juga warna Nikmati sejenak Beri ruang penerimaan Kemudian simpan, serta uraikan Tangisan, senyuman Secarik emosi tuk memahami arti rasa bernamakan "Hidup"

[BOOK REVIEW] Secangkir Kopi dan Pencakar Langit by Aqessa Aninda

Image
Judul : Secangkir Kopi dan Pencakar Langit No. ISBN : 978-602-02-8759-1 Penulis : Aqessa Aninda Penyunting: Pradita Seti Rahayu Penerbit : PT Elex Media Komputindo Jumlah Halaman : 352 hlm Kategori : Fiksi, Romance, City-Lite   source: goodreads Blurb: Satrya nggak munafik,  first impression  seorang laki-laki terhadap perempuan pasti tampilan fisik dulu sebelum  inner beauty . Namun teori itu terbantahkan ketika Satrya tanpa sengaja meminta bantuan Athaya, seorang  IT system analyst  yang begitu  passionate  dengan profesinya, dan juga dijaga habis-habisan sama cowok-cowok IT yang pada sayang sama 'dedek' mereka ini. Satrya bisa memilih cewek cantik mana saja untuk didekati—penampilan Satrya memang mampu bikin cewek-cewek melirik sekilas kepadanya. Tapi, ia memilih Athaya. Sedangkan Athaya diam-diam sudah lama memendam rasa pada Ghilman. Masalahnya... Ghilman sudah punya pacar. Di tengah-tengah  business distri...

Hanya Sepintas

Aku ini terlalu gegabah Harap yang jadi begitu membuncah Bahagia yang meluap-luap Tanpa sadar akan kemungkinan lainnya Aku ini terlalu percaya Pada angan-angan semata Aku ini terlalu naif Bergelimang dengan khayal Aku ini terlalu lemah Berhadapan dengan hadirmu Tahukah aku? Bahwa dirimu hanya sepintas Tak pernah bermaksud Tuk singgah sampai nanti ~

[BOOK REVIEW] We Were Liars by E. Lockhart

Image
Judul : We Were Liars No. ISBN : 978-602-03-0671-1 Penulis : E. Lockhart Penerjemah: Nina Andiana Desain Sampul: Martin Dima Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jumlah Halaman : 296 hlm Kategori : YA-Contemporary, Mystery, Romance   source: goodreads Blurb: Keluarga yang menawan dan disegani.  Pulau pribadi.  Gadis cerdas yang risau; pemuda politis yang penuh semangat.  Empat sahabat—Para Pembohong—dengan pertemanan yang kemudian menjadi destruktif.  Kecelakaan. Rahasia.  Kebohongan demi kebohongan.  Cinta sejati. Kebenaran. Para Pembohong merupakan novel suspense modern karya E. Lockhart, finalis National Book Award dan penerima Printz Award. Bacalah. Dan jika ada yang bertanya bagaimana akhir cerita ini, JANGAN BERITAHUKAN. source: google “Berbaik hatilah lebih daripada yang perlu kaulakukan.”—halaman 139 Kilas Balik Cerita Novel We Were Liars ini sempat ramai diperbincangkan di dunia per- bookst...

[BOOK REVIEW] Nais Tu Mit Yu by Dina Mardiana

Image
Judul : Nais Tu Mit Yu No. ISBN : 979-780-053-9 Penulis : Dina Mardiana Penyunting: Christian Simamora Penerbit : Gagas Media Jumlah Halaman : 232 hlm Kategori : Fiksi, Teenlit, Young-Adult source: google Blurb:   Mozart seperti permen pedas, cool sekaligus bikin penasaran. Aira nggak bisa menghindar lagi, cowok itu telah membuat perasaannya jungkir balik tak menentu. Aduh, aduh, gimana nih? Aira nggak bisa menghindar lagi. Dia jatuh cinta! Aira mencoba menenangkan diri. Atur napas, siapkan tampang setenang mungkin. Aira menghampiri Mozart, dan kini jaraknya dengan cowok itu hanya berselisih beberapa langkah saja. Aira mengulurkan tangan, “Nice to meet you, Mo.” Dan sejak itu dunia Aira tak sama lagi…. ~~~   It needs rain to see rainbow. Gue percaya quotation itu. Bahwa selalu butuh pengorbanan dan perjuangan untuk akhirnya mendapatkan yang terbaik.—halaman 225   Kilas Balik Cerita Well to the well, well, well. Akhirnya pun...