Posts

Showing posts with the label puisi

Alur Terjal

Setapak demi setapak Kucoba menapaki Selangkah demi selangkah Kucoba melangkahi Alur yang begitu terjal Penuh bebatuan Juga tikungan tajam Yang harus dilalui Berpegang dengan erat Agar menguat Selalu berhati-hati Agar mengerti Dalam doaku, Dan pintaku, Kumemohon untuk dikokohkan Hingga titik tujuan akhir.

Pertanyaan

Ketika aku sedang berjalan, Kenangan akan dirimu buatku berangan-angan. Kala aku berlari, Bayanganmu sedia menghampiri. Kemudian aku mencoba berhenti sejenak, Namun pikiranku semakin terhenyak, Dan tak bisa tidur nyenyak. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Mengapa seolah-olah dirimu memegang kendali atas diriku? Sebenarnya, Siapa dirimu? Kau bukan kekasih, Pun mantan kekasih. Aku letih memikirkan berbagai kemungkinannya. Sudikah kamu tuk menjawabnya?

Yang Hilang

Teruntuk yang terkasih, Yang mulai pudar ditelan masa, Yang menyisakan pedih, Gundah dan nelangsa Engkau masih ada, Aku selalu yakini itu Bukan, bukan harapan fana Tetapi aku tahu, kau memang selalu ada Aku 'kan merasa berdosa Jika percaya kau telah tiada Hanya butuh waktu, Dan kesabaran Tuk temu dan cengkerama Tanpa terbatas Di suatu ruang Yang menjadi milikNya

Tersiksa

Kerap kali aku bertanya-tanya Mengapa egomu begitu melangit Mengapa begitu sulit tuk menjejak Hingga meluruh segala peluh Kau memilih tuk berkeras Inginku meledak-ledak, Menjerit-jerit dan terbirit-birit Melancong ke alam penantian Batinku tersiksa Hidup, bagai tak hidup Bak jiwa yang teriris-iris Raga pun semakin terkikis Menghadapi dirimu yang bengis Lepas, Egomu buatku kebas. Diam, Ucapanmu buatku geram. Enyahlah, Hadirmu buatku lelah.

Pertanda

Beberapa meter sebelum bertemu persimpangan jalan Langkahku mulai goyah Kutarik napas dalam-dalam Membalas lambaian angin malam Mengangguk pada suara jangkrik yang menyapa Tak lama kemudian Diriku dilemparkan ke dunia paralel Dalam posisi duduk di depan sebuah televisi tua Yang menyisipkan satu alur cerita Yang telah dirunutkan dari hulu ke hilir Kau ada di sana sebagai pemeran utamanya Tampak berbagai kegelisahan melucutimu Memicu rasa frustasi pada dirimu Mencuri segala sinar bahagiamu Lambat laun, bayangan diriku mulai mengikutimu Namun, tak jua kau terlepas dari belenggumu Kau malah semakin terkurung dalam murung Kau mencoba berhitung, tapi tetap menggantung Inikah pertanda bagiku? Inikah akhir dari pencarianku? Inikah jawaban untukku? Intuisiku semakin kuat Kau bukanlah rumah yang tepat

Mencari Tanda

Di bawah temaram lampu kota Aku mengikuti arah pandangnya Menatap langit di atas sana Merintih tuk bertanya-tanya Apa yang sedang dicarinya? Sadarkah ia bahwa aku bersamanya? Menjejak tanah yang sama Duduk di bangku taman persis di sebelahnya Lama sekali ia mendongak Aku tak cukup kuat bertahan selama dirinya Apa sebenarnya yang sedang menggerayangi mesin kepalanya? Sorot tajam matanya Perlahan-lahan tertutup Kemudian terbuka kembali Dengan tatapan polos anak-anak Merengek minta pulang padaku Lekas berwujud menjadi seorang mama Menggiring pulang anaknya Saling menggenggam tangan Diselingi nyanyian bahagia Nyatanya,  Tiada mata yang menatapku Apalagi tangan yang menggenggamku Perlahan, ia berdiri sambil berkata "Pulang? Sudah malam." Baiklah, mari pulang Meski diselimuti ragu akan arahnya Pasti 'kan kutemukan tandanya bukan? Hanya butuh satu jawaban Benarkah kau adalah rumah?

Menaruh

Akibat takut, hanya bisa berbaring Ucapan kasar yang kemudian terlontar Tiada harga dan kasih untuk sekitar Bolehkah aku menaruh dendam padanya? Sungguh, menyakitkan Keadaan semakin memburuk Pikiran terus berkecamuk Jiwa yang dicambuk Raga pun digeruduk Sekali lagi, Bolehkah aku menaruh dendam padanya? Ingin kumulai berlari Namun, tak ada tepi yang aman Di mana-mana sama saja Di sini pun tak ada jaminan Apalagi kenyamanan Rasa gamang melandaku Cemas yang berlebih mulai melingkupi Berusaha menapak dengan benar Meski babak belur Dendam mulai tumbuh subur Ketika ia tetap membatu Bolehkah aku menaruh dendam padanya?

Mengadu

Dua bulan t'lah berlalu Raib sudah segala pilu Direngkuh oleh sang waktu Disisakan tumpukan rindu Oh Tuhanku, Hanya padamu aku bisa mengadu Dengan amat syahdu Oh Tuhanku, Aku percaya selalu Bahwa segala rencanamu Adalah yang terbaik bagiku Namun, apalah dayaku Kehilangan satu permata hidupku Memukul mundur jiwa ragaku Oh Tuhanku, Tolong bantu hambamu Yang sedang jatuh terpaku Di jalan yang buntu

Di Rumah

Tatkala rumah tak lagi menjadi "rumah" Tak lagi ada ramah tamah Rasa nyaman dan aman musnah Dilingkupi tangis dan amarah Digerayangi oleh resah Tumbuh subur rasa gundah Yang dipupuk mantra "baiklah" Memendam rasa gerah Karna selalu mengalah Dan terlihat lemah Baiklah, Kuakui bahwa aku lemah Akibat terlalu lelah Mencerna segalanya yang buat gelisah Meski begitu, Aku pantang menyerah

Bagaimana Jika

Bagaimana jika, aku berhenti saja? Terlampau lelah untuk berkilah-kilah terhadap diri sendiri maupun orang lain. Konon, aku ini hanya butuh jeda. Namun, bagaimana jika, berlangsung untuk selamanya?

Terurai

Sayup-sayup helaan nafas Terdengar menyesakkan Tak beraturan Remuk tertekan Kembali ia menghela nafas Sesaat sebelum menggelegar Menggenang, dan Menenggelamkan Ranah kelam Yang telah lama karam Kini terurai Menjelma raksasa Terpaku kelu Mengendapkan pilu

Pesan Terakhir

"Selamat malam!" Sapanya hangat padaku "Aku mau pamit" Sambungnya dengan tak nyaman Ternyata, Aku sudah lama terlena Hingga tiba waktunya Untuk kembali berpisah dengannya Malam ini, Malam ganjil terakhir Yang bahkan tak bisa kugenggam Tapi harus tegar dan ikhlas Saban kali hari ini datang, Tak pernah kuasa Tuk menahan tangis "Akankah ini jadi perjumpaan terakhirku denganmu? Sudahkah yang kali ini menjadi yang terbaik dihadapanNya?" Kemudian ia hanya tersenyum Barangkali ia tahu Atau tidak tahu Atau mungkin, tidak mau aku tahu Tentang jawabnya "Bersedihlah, Karena tak bisa menutup kepergianku Dengan dua rakaat kemenangan. Namun, jangan terlalu larut Karena kemenangan yang sesungguhnya Terjadi ketika kamu tetap teguh di jalan kebenaran" Ia berhenti sebentar Kemudian dilanjutkannya "Pertahankan yang dirasa sudah baik, Usahakan yang dirasa belum baik, Tinggalkan yang dirasa tidak baik, Jadikan aku sebagai ...

Salam Sayang

Kamu bilang, Hanya aku yang kamu tunggu-tunggu Kamu bilang, Tak sabar tuk berjumpa denganku Kamu juga bilang, Akan meluangkan waktumu Demi berpuas diri bersamaku Selama aku di sisimu Bulan beranjak Hari-hari berganti Jam dinding berdentang Hingga akhirnya aku sampai Di depan pintu rumahmu Dengan tulus kuucapkan Salam hangat Disertai senyum sumringahku "Wahai, aku telah datang! Aku yang telah kamu tunggu-tunggu, yang buatmu tak sabar tuk berjumpa" Kukira aku 'kan jadi Tamu istimewamu Yang 'kan disambut Dengan penuh suka cita Namun, nyatanya apa? Kamu malah bertanya "Ah, kenapa datang sekarang? Ini terlalu cepat" Kupikir, kedatanganku tak begitu cepat Kabarku ada tiap harinya Tuk jadi pengingatmu Bahwa aku akan datang Pada Minggu malam "Sudah waktunya, sayang" Jawabku dengan tenang "Tak apa, aku masih lama di sini. Kamu selesaikan saja urusanmu, aku akan setia menunggumu sampai batas waktuku tiba" ...

Tetap Berjalan

Pagi beranjak siang Siang berganti malam Terbit lalu terbenam Panas kemudian dingin Begitulah cara kerjanya Tanpa memedulikan sekitar Menggerus apapun yang berada di depan matanya Maka waktu akan tetap berjalan Seiring roda kehidupan berputar Tak peduli kamu sedang di atas atau terpuruk di bawah Dengan diam, ia akan tetap berdetak perlahan Jangan disia-siakan, pesannya Karena tak ada reka ulang Bangkitlah sayang, dan tetap berjalan

Kehidupan Fana

Datang, kemudian pergi Hanyut, kemudian larut Ukir, kemudian hapus Erat, kemudian hempas Ikat, kemudian lepas Sebuah rangkai kehidupan Simbolis kefanaan yang penuh makna juga warna Nikmati sejenak Beri ruang penerimaan Kemudian simpan, serta uraikan Tangisan, senyuman Secarik emosi tuk memahami arti rasa bernamakan "Hidup"

Hanya Sepintas

Aku ini terlalu gegabah Harap yang jadi begitu membuncah Bahagia yang meluap-luap Tanpa sadar akan kemungkinan lainnya Aku ini terlalu percaya Pada angan-angan semata Aku ini terlalu naif Bergelimang dengan khayal Aku ini terlalu lemah Berhadapan dengan hadirmu Tahukah aku? Bahwa dirimu hanya sepintas Tak pernah bermaksud Tuk singgah sampai nanti ~

Terbelenggu

Katanya, roda berputar Namun ada kalanya roda tersebut berhenti Entah untuk sementara atau selamanya Menurutnya, tak perlu khawatir Tapi bagaimana bisa tenang Disaat keadaan genting Dan diriku masih terbelenggu Yakinnya, roda berhenti tuk sementara Lalu, seberapa lama harus menunggu? Hingga lepas dari jeruji kemiskinan, Perut lapar yang belum berhenti berteriak, Tangisan pedih karena kesakitan Tolong bantu Kayuh pedalnya Agar roda kembali berputar

Lantunan Perpisahan

Sebelas bulan yang lalu, Menjadi awal yang berat bagiku dan kamu Kita terpisah begitu jauh Terbentang ratusan ribu jarak Penuh halang dan hambat Gelisah dan gamang menggelinang Kemudian kita dipertemukan kembali Dirimu masih memikat Lebih indah dari sebatang coklat Hadirmu terasa begitu dekat Namun nyatanya berjuta jarak membentang Tiada lagi kata yang terucap Tiada lagi senyum yang terukir Tiada lagi tatapan yang menghangatkan Hanya aku, dan kau Yang tak lagi hirau Inikah akhir dari semua kisahku bersamamu? Akankah gelap kembali bersinar terang? Ataukah gelap akan semakin kelam hingga karam?

Kuning Mengabu

Februari tlah lalu Menyisakan sebongkah ragu Yang disertai pilu Hingga menguning kelabu Aku tak tahu-menahu Arti dari tatapmu Juga segala tingkahmu Yang memenuhi benakku Harap-harap hijau Terbelenggu dalam candu Tertumpuk oleh rindu Terikat perasaan sendu Dibalut lautan yang mengabu Intuisiku menggebu-gebu Lembaran buku jadi pelampiasanku Tuk lepas dan bebasku Di bulan yang baru

Dalam Diam

Terasa damai Setiap kali bertatap muka Meski tak ada sapa yang terucap Tiada lambaian atau pun senyuman Yang ada hanya gemuruh hingga luluh Terasa cukup Ketika berhasil menggamit bayangannya Menangkap siluet indahnya Mengaguminya dalam diam Tanpa melakukan apa-apa Apalagi menyisipkan harapan Tak perlu berteriak Tak perlu mengatakan Tak perlu berbisik-bisik Hanya perlu diam Dan simpan baik-baik